Rabu, 30 November 2016

cerita 20 tahun

20 Tahun. Dimana kita lagi seru serunya ketemu temen baru, suasana baru, tempat baru yang belum pernah kita temuin, tanggung jawab sama kerjaan, tugas tugas numpuk yang bikin tidur larut malam, hang out sama temen sampai nggak ingat waktu, pulang diatas jam 9 yang saking biasanya sampai udah nggak jadi tabu lagi buat anak cewek. Ya itu semua yang dirasain di tahun ke 20 ini.
Awalnya kamu mungkin ngerasa ini akan jadi kebahagiaan baru yang akan kamu dapat setelah lulus SMA. Dimana kamu akan bebas dari segala hal yang kamu benci selama 12 tahun sekolah trus keluar dari keinginan orangtua kamu dan mulai mutusin bakal jadi apa kamu nantinya. Gimana? Menarik kan?
Tapi faktanya 20 tahun nggak semudah ngedeskripsikan kegiatan barusan. Dibalik itu semua kamu akan benar benar sendiri, nentuin jalan hidup kamu sendiri, bahkan di luar sana banyak yang hidup dengan perjuangannya sendiri. Gapai semua mimpi itu nggak sesimple kamu ngucapin “Nanti pas aku udah lulus aku bakal jadi ini jadi itu, aku pengen gini pengen gitu, aku bakal kesini bakal kesitu”
Banyak kok mereka yang malah pengen balik lagi jadi anak sekolahan. Tiap pagi kamu bangun dengan terpaksa tapi seengaknya kamu punya satu tujuan, “Sekolah”. Nah ini yang biasanya jadi dilema. Kalau yang kuliah bangun pagi buat kuliah, kalau yang kerja bangun pagi buat kerja, tapi kalau yang nganggur? Oke, mungkin kamu berpikir justru enak dong, kan jadi nggak perlu bangun pagi lagi karena nggak ada tujuan. Tapi coba kamu pikir lagi deh, kalau cuma buat sehari, seminggu atau sebulan mungkin kamu akan bersyukur, tapi kalau sampai berbulan bulan atau bahkan setahun? bosan nggak sih?
Biarpun mungkin ada yang ngerasa biasa aja tapi seengaknya pasti sempat mikirin, mau sampai kapan kayak gini terus? Mau sampai kapan hidup nggak ada tujuan? Ujung ujungnya jadi keinget masa masa sekolah trus jadi flashback lagi.
Pernah nggak sih nemuin anak sekolah yang biasanya suka ngeluh pengen cepet cepet lulus biar nggak sekolah lagi? Pasti pernah kan. Mungkin yang mereka bayangin kalau udah lulus bisa bebas, nggak perlu ngerjain tugas, nggak perlu tidur tepat waktu, nggak perlu bangun pagi dan lain lain. Padahal mereka belum tau gimana rasanya kalau udah nggak sekolah, bahkan mereka bakal rindu sama sekolah.
Kenapa pengen cepat lulus sih? Nikmatin aja, hidup setelah lulus SMA itu nggak seperti khayalan kamu atau kayak hidup anak SMA di film yang pernah kamu tonton. Itu akan jadi lebih sulit dari yang kamu kira, bahkan jauh lebih sulit dari bangun pagi, ngerjain tugas sebelum bel bunyi dan lebih sulit lagi dari upacara bendera tiap hari senin. Masalah yang kamu temuin pas kamu masih jadi anak sekolahan itu belum ada apa apanya dibandingin masalah yang akan kamu temuin pas udah lulus. Semua beban yang ada bakalan nambah, bahkan lebih berat dibandingin sebelumnya. Jadi bersyukurlah kalau kamu masih bisa sekolah atau masih di jenjang sekolah saat ini. Jalanin selama kamu belum menyesal atas apa yang udah kamu jalanin. Nikmatin selagi kamu masih bisa nikmatin.

the secret of love

Cinta yang dipendam sendirian memang menyakitkan. Orang yang kita cintai, orang yang kita dambakan, orang yang kita perhatikan, orang yang kita pikirkan setiap saat pun belum tentu berbalik memikirkan kita pula. Jatuh cinta memang indah, tapi tidak untuk orang yang sedang jatuh cinta sendirian. Rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang kita inginkan. Butuh hati yang kuat dan tulus untuk itu. Untuk mencintai seseorang dengan cara diam. Jika aku diizinkan untuk menolak rasa ini, maka akan aku lakukan. Cinta yang dirahasiakan memang pahit. Oleh sebab itu, wanita hanya butuh kepekaanmu wahai kaum lelaki…
“Hey! Kerjaan kok melamun melulu sih, kesambet baru tau rasa loe!” ucap Siska yang mengagetkanku.
“Dasar pengganggu!” sahutku dengan nada emosi.
“Serius amat sih, emang loe lagi ngelamunin apa sih?” sambungnya.
“Ngelamunin ikan cupang.” jawabku sekenanya.
“Elo tuh ya, ditanya serius malah jawabnya ngelantur, jangan-jangan lagi ngelamunin si Adnan. Iya kaaaan?”
“Enggak kok, dasar sok tau!” sewotku.
“Udah deh, ngaku aja kenapa sih?” tindasnya.
“Enggak Siska… temanku yang baik” bantahku.
“Enggak salah kan? Kan? Kan?”
“Tau ah, males bicara sama orang sorot kayak elo!”
“Cieee… cie…” ledeknya. Dan aku hanya diam tak menggubrisnya lagi.
Sebenarnya memang benar apa yang dikatakan Siska, aku sedang bingung “Kok bisa ya, aku suka sama Adnan. Padahal dia kan jutek dan cuek” gumamku dalam hati.
Adnan adalah teman sekelasku. Ia sebenarnya cowok yang baik plus pinter di antara temen cowokku lainnya. Tapi ada satu keburukan dia. Yaitu mubal (muka bantal). Abis kerjaanya tidur melulu. Kalo jam kosong tidur. Kalo jam istirahat tidur. Dan kalo jam pelajaran pasang muka ngantuk. Kan mubal BGT tuh orang.
Aku dan dia tuh musuh kalo lagi musim ulangan. Kita mah suka taruhan, siapa yang nilainya paling rendah di antara aku dan dia, dialah yang harus traktir makan. Tapi saingannya sehat kok. Nilainya pun pasti gantian, kadang aku yang tinggi, kadang aku yang rendah, dan kadang pula samaan.
Dia itu terlalu sempurna untukku. Dan mungkin aku nggak pantes buat dia.
“Jangan terlalu berharap, nanti kalo akhirnya dia nggak cinta sama kamu gimana?” bisikku dalam hati. Memang konyol.
“Teeet… Teeet… Teeet…!” bel tanda dimulainya jam pelajaran keempat telah berbunyi. Semua siswa berhamburan memasuki ruang kelas masing-masing.
15 menit kemudian, tiba-tiba…
“Pengumuman, diberitahukan kepada ketua dan sekretaris masing-masing kelas untuk segera berkumpul di aula sekolah guna membahas kegiatan Class meeting besok lusa. Terimakasih.” suara speaker sekolah menggema ke segala penjuru ruangan.
Aku pun dengan spontan berdiri.
“Sis, gimana nih? Gue disuruh rapat, terus Adnan dimana?” tanyaku pada Siska.
“Mana gue tau. Sama gue aja kenapa? Hehe.”
“Elo kan kebersihan. Masa elo sih? La ketua kelas suruh ngapain?” protesku.
“Yaudah… Ayo kita cari Pak Ketua” Siska memberi solusi. Aku pun setuju.
“Nah, panjang umur tuh anak. Tuh dia udah dateng.” Siska memberi tahu.
“Nan, tadi elo denger nggak pengumuman?” tanyaku padanya.
“Ya denger lah. Makanya itu gue kesini buat nyari elo!” jawabnya.
“cieee…” dengan tiba-tiba Siska menyahut. Tapi aku tak menggubrisnya. Lalu aku pergi bersama Adnan menuju lantai dua sekolah kami. Aula.
Setibanya di aula, aku dan Adnan duduk sebangku. Kalaupun bukan karena tugas mungkin itu tak akan pernah terjadi. Aku yang di sampingnya tak berani menatap wajahnya, apalagi menatap matanya. Aku tak sanggup.
“Adnan, sesungguhnya aku telah lama mengagumimu. Bahkan aku pun mulai mencintaimu.” ungkapku dalam hati.
Tak ada percakapan di antara kami berdua sejak satu jam yang lalu. Dan kini waktunya kembali ke kelas masing-masing. Sepertinya aku tak dianggapnya sama sekali. Atau mungkin dia benci padaku. Mungkin.
Sangat sakit rasanya aku. Saat kau diamkan aku. Hari ini mungkin hari yang buruk untukku.
“Nan, gimana tadi kencanya sama Alita? Sukses?” Tanya Risky padaku.
“Kencan apaan? Orang tadi gue cuma rapat doang kok ama dia.” jawabku.
“Elo tuh gimana sih? Ada kesempatan emas malah gak elo gunain. Dasar bego lu!” sambungnya memakiku.
“Ah udahlah, semua akan indah pada waktunya.” jawabku.
“Terserah elo deh, Nan. Gua bingung ama elu.” akhirnya Risky pasrah.
“Elu kenapa sih Ta? Abis ketemu pujaan hati kok makin murung sih?” Siska bertanya padaku. Aku tak menanggapinya apalagi menjawab pertanyaannya.
“Ta, sebaiknya elo tuh cepet-cepet ungkapin perasaan elo itu ke Adnan. Keburu nanti elo naik kelas, pasti nanti kan pada misah semua.” ucapan Siska menambah kegundahanku.
“Udahlah Siska, gue cewek, dan gue nggak mau mulai duluan. Oke? Dan elo nggak usah ikut campur sama urusan pribadi gue. Gue tau kok apa yang terbaik buat gue.” aku menjawab dengan nada emosi.
Lima hari kemudian…
“Hari ini mungkin adalah hari terakhir aku ketemu Adnan.” gumamku.
“Mungkin memang dia bukan untukku.”
“Alita, aku mencintaimu! Setelah pembagian rapor nanti, apakah aku bisa bertemu lagi denganmu seperti hari-hari sebelumnya?” gumamku bertanya pada diriku sendiri.
“Huuuft… !!! Entahlah.”
Rapor selesai dibagi. Pengumuman hari libur kenaikan kelas pun telah selesai. Kini waktunya untuk pulang. Dan seorang Alita pun masih terduduk sendirian di dalam kelas, sedangkan Adnan? Dia berdiri mematung di balkon lantai dua.
Begitulah readers, cinta tapi gengsi. Tak ada yang mau memulai. Memang saling mencintai, tapi tak ada yang berani mengungkapkan. Dan akhirnya pupus. Terganti oleh cinta yang lain, begitu seterusnya. Itulah mengapa kau sampai sekarang masih sendiri. Karena kau tak pernah mengungkapkan isi hatimu. Jangan salahkan takdir. Karena takdirmu ada di tanganmu sendiri. Apakah kau ingin sendiri atau bersamanya.
The End

pacaran membuatku lupa segalanya

Halo nama saya Diki Wahyudi, saya akan bercerita tentang kehidupan saya dimasa smk dulu, dimana dulu cinta pertama saya pun hadir dan meracuni jiwa dan raga saya.
Kehidupan saya baik-baik saja saat saya hidup sebagai anak muda yang cukup aktif dan polos, saya belum mengerti apa itu cinta. Dari kecil hingga masuk sekolah menengah pertama saya belum tertarik dengan yang namanya pacaran, bukan karena saya tidak normal tapi karena orangtua tidak mengizinkan saya pacaran sebelum lulus sekolah. Hari-hari saya berjalan dengan baik seperti biasa sampai pada akhirnya saya termakan rayuan teman saya sebut saja si Fulan, dia bilang kalau pacaran itu enak dan bisa ngilangin stress, galau, bete gitu, saya pada waktu itu percaya saja karena dia sudah berpengalaman soal percintaan, ya saya percaya karena dia bilang mantannya lebih dari 20an lebih hahah. saya pun penasaran gimana sih rasanya pacaran.
Tapi sayangnya saya mendapat awal yang sangat buruk untuk memulai hubungan, kenapa? Saya mendapatkan wanita yang “bad girl” what is bad girl? Saya mendapatkan wanita yang ‘nakal’, itu juga rekomendasi dari teman saya karena dia gampang sekali didekati, saya rayu dia saya dekati dia saya Pepet terus setiap jam istirahat, saya jadi tertarik begitu juga sebaliknya, akhirnya saya pun ‘tembak’ (istilahnya mengutarakan perasaan) saya ke wanita itu dan dia pun meng’iya’kannya (tuh kan gampang banget)
Setiap pulang sekolah saya tidak pulang ke rumahnya melainkan di sekolah bermesraan dengan Putri -nama pacar pertama saya- saya berdua-duaan sampai saya pun ada pikiran nakal, saya mencium bibirnya.. yang belum pernah saya rasakan selama hidup saya.
Seketika kehidupan saya berubah menjadi orang yang haus cinta, begitu banyak tekanan, menjadi liar tapi di sisi lain saya ingin kembali seperti saya yang dulu, tapi perasaan saya masih ingin melakukan itu tidak ada puasnya, rasanya hidup sudah terpaku dengan pacaran, kehidupan saya kacau, saya jadi orang yang boros, saya jadi tidak fokus belajar karena hanya memikirkan tentang wanita..
Tapi karena Allah masih sayang sama saya, Allah tuntun saya ke jalan yang benar lagi melalui kejadian. Pada saat memasuki bulan Ramadhan sekolah saya diliburkan selama sebulan dan sekolah mencarikan tempat magang untuk siswanya untuk mengisi liburannya, tapi saya tidak ikut karena ibu saya sedang hamil besar -8 bulan mau naik 9 bulan- pada saat mengisi liburan saya mengantar-jemput dia ke tempat magangnya karena saya ingin memegang tangannya selalu, saya memikirkan dia setiap malam, rutin saya lakukan setiap hari, sehingga dia meminta untuk tidak menjemput dia karena takut merepotkan, nah pada saat itulah saya tidak pernah antar-jemput dia sampai sebulan.
Nggak tau kenapa perasaan saya perlahan mulai hilang, saya mulai ingat sama Allah, saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan itu salah, saya putusin dia dan saya minta maaf ke dia kalau selama ini saya sudah bertindak berlebihan sama dia, tapi tidak apa-apa karena peristiwa itu saya jadi mengerti kenapa orangtua saya melarang pacaran sebelum lulus sekolah.
Kawan-kawan Allah tidak menyebutkan adanya pacaran dalam al-quran, Pacaran terjadi karena adanya bisikan syetan, jika kalian berfikir bahwa adanya pacaran islami? Itu artinya kamu sudah ditipu sama syetan, tidak ada pacaran yang islami, pacaran menuju kepada kemaksiatan. Maka jauhilah sekarang juga karena azab Allah sangat pedih. Saya harap pembaca mengambil pelajaran dari pengalaman saya ini, karena pengalaman yang berharga dan gratis adalah pengalaman yang kita lihat dari orang lain.
Wassalamu’alaikum

bunga abadi

“Ra..” bisik lelaki dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit karena ditinggalkan. Lelaki itu sangat mencintainya. Sangat. Bahkan, lelaki itu terus saja berbisik memanggil namanya. Meskipun ia tahu tidak akan mendapat sahutan. Ia tak juga beranjak meski sekelilingnya sudah tak ada orang, meski hanya bertemankan nisan-nisan yang hanya akan terus diam, meski langit mendung memayungi. Tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi menatapnya di kejauhan dan ikut menangis bersamanya.
“Ram, sampai kapan kamu akan terus duduk di sini dan menatap nisannya? Aku tahu ini berat, tapi cobalah untuk mengikhlaskan. Doa tulus darimu dan keikhlasanmu yang ia butuhkan saat ini. Istirahatlah, kamu bisa mengunjunginya lagi besok.” Ujarku mencoba menguatkan dirinya yang kutahu ia sangat rapuh saat ini.
“Kamu pulang saja lebih dulu. Aku masih ingin bersamanya” Ujarnya masih menatap nisan yang bertuliskan nama MIRA ANDANI. Nama yang sudah 3 tahun mengisi hati Rama.
“Tapi kamu sudah duduk di sini berjam-jam. Sebentar lagi malam, lagipula hari sudah mendung. Ayo, kita pulang sebelum hujan turun.” Aku masih berusaha membujuknya.
“Biarkan saja aku kehujanan dan bermalam di sini. Aku tidak peduli! Kalau kamu mau pulang, pulang saja!” suaranya meninggi.
“Kamu pikir dengan duduk di sini semalaman dan berhujan akan membangunkan Mira? Kamu pikir dia senang kalau kamu sakit? Rama, sudahlah. Aku yakin Mira ingin kamu tidak terlalu larut dalam kesedihan seperti ini.”
“Apakah pernah kamu kehilangan orang yang sangat kamu cintai? Apa pernah, heh? Tidak, kan? Kamu tidak tahu rasanya!” Rama benar-benar keras kepala. Tapi, aku tidak menyerah untuk membujuknya.
“Tidakkah kamu tahu bahwa semua orang juga sangat kehilangan Mira? Tapi mereka tetap melanjutkan hidup. Bukan karena mereka sudah melupakan Mira, tapi mereka tidak ingin Mira sedih. Pulang dan istirahatlah. Kirimkan doa untuknya.” Aku memegang pundaknya, ia menatapku. Kulihat matanya memerah. Ah, hatiku ikut sakit melihatnya seperti ini.
“Kamu mencintai Mira, kan?” Ia menangguk pelan
“Kamu yakin ia juga mencintaimu, bukan begitu?” Lagi-lagi ia mengangguk
“Kalau begitu, sehatlah. Hiduplah seperti Rama yang dicintai Mira. Kamu tahu Mira takkan membiarkanmu sakit, kan?” Ia menangguk lagi. Ya, aku sangat mengenal Mira yang sangat memperhatikan kesehatan orang-orang di sekitarnya. Dia akan sangat sedih jika tahu ada orang yang ia sayangi jatuh sakit.
Akhirnya bujukan itu mampu membuat Rama luluh. Ia berjalan dengan lemas. “Apakah sebegitu berartinya seorang Mira untukmu?” Gumamku dalam hati. Seketika aku merasa ikut melemas.
Hari ini tampak sama, langit begitu cerah. Cahaya matahari begitu hangat menyentuh kulitku. Namun, ada seseorang yang telah berubah. Ia tak lagi hangat seperti cahaya matahari, tak lagi kulihat ia menarik kedua ujung bibirnya membentuk lengkungan ke atas. Ya, ia tak lagi menjadi Rama seperti dulu yang kukenal. Bertahun-tahun mengenalnya, menjadi teman yang selalu ada di sampingnya, selalu menjadi penghiburnya serta semua nasihatku tak menjadi motivasi Rama untuk bangkit dari patah hatinya. Padahal, ia sudah berkali-kali patah hati sebelum ini. Tapi, tak pernah sehebat ini.
Lagi, kaki ini tetap melangkah padamu. Meski aku tahu akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti kemarin. Meski takkan kurasakan hangat tatapanmu, walaupun takkan ada senyuman untukku. Setidaknya aku telah mencoba, bukan?.
Seperti kemarin, hari ini aku hanya duduk di sampingmu. Duduk menatapmu yang sedang menatap kosong dinding kamarmu. Keluar sebentar hanya untuk memasakkan makan siang untukmu dan terus-terusan mencoba membujukmu untuk memakannya. Walaupun hanya satu atau dua sendok saja. Itu sudah cukup untuk memberimu energi untuk tetap hidup. Karena menangis saja juga membutuhkan energi, benar kan?.
Untunglah saat ini sedang libur panjang sehingga aku bisa seharian duduk di sampingmu yang hanya membisu. Berbagai cara kulakukan untuk menghiburmu. Mencoba mengajakmu berbicara, melontarkan teka-teki yang akhirnya kujawab sendiri, menceritakan sesuatu yang lucu meski hanya aku yang tertawa. Tapi kamu masih diam, sejak aku datang hingga berpamitan untuk pulang. Seorang penghibur juga perlu istirahat, kan? Karena untuk menjawab pertanyaan sendiri dan untuk menertawakan lelucon sendiri juga memerlukan energi, ya kan?
“Bayanganku sudah memanjang. Tidak terasa, ya? Kalau begitu aku pamit pulang, ya? Besok aku akan ke sini lagi.” Pamitku lalu melangkah ke luar dari kamarnya yang di setiap sudutnya seperti tertulis hampa dengan cetak besar dan tebal.
“Pulanglah. Jangan pernah kembali.” Ucapnya menghentikan langkahku. Sejak hari pemakaman itu ia tak sedikit pun mengeluarkan suara. Tapi, kenapa saat ia membuka mulut malah kalimat menyakitkan itu yang keluar?
Aku berbalik dan menatap laki-laki yang berat badannya sudah menyusut dengan drastis itu. Menatap matanya yang terlihat begitu menyayat. Ah, bukankah laki-laki di hadapanku ini adalah insan yang sedang patah hati?. Wajar saja ia berkata seperti itu.
“Apa yang lagi yang kamu tunggu?” ucapnya dingin.
“Uh, kamu tahu? Kalimat itu barusan menyakitkan. haha” Ucapku yang masih berpikir ia bergurau
“Kamu mencoba membuat lelucon, Ram? Leluconmu masih kurang lucu. Besok aku akan kembali membawa buku kumpulan cerita lucu, mungkin itu akan membantumu.” Sambungku
“Aku bilang jangan pernah kembali! Apa kamu tuli, Fya?” aku tersentak, aku sama sekali tak menduga kalau yang diucapkannya bukanlah sebuah lelucon. Bahkan ia tak pernah menyebut namaku. Selama ini ia selalu memanggilku ‘adik kecil’ yang membuatku tak pernah bisa mengatakan apa yang selama ini memenuhi ruang hatiku, siapa yang selalu menjadi pemeran utama dalam pikiranku.
“Tapi, kenapa? Aku hanya ingin menghiburmu.”
“Untuk apa menghiburku? Bukankah kamu senang atas kematian Mira? Tidak perlu berpura-pura peduli!” Ucapnya dengan tatapan menuduh.
“Kenapa aku harus senang? Jadi kamu berpikir bahwa aku hanya pura-pura peduli? Baik, terserah kamu mau menilaiku serendah apapun itu. Aku akan mencoba tidak peduli dan tidak akan pernah menemui lagi.” Ucapku sambil berlari menjauh. Tidak kusangka orang yang selama ini kusayangi tega menuduh dan menilaiku serendah itu. Aku mencoba menahan tangisku. Tapi tidak bisa, kali ini Rama benar-benar menyakitiku.
Aku menangis di depan nisan berukirkan nama seorang wanita yang memang tiga tahun ini selalu membuatku cemburu. Bagaimana tidak, jika wanita yang baru saja mengenal Rama bisa dengan mudah mencuri hatinya. Sedangkan aku yang telah berusaha mati-matian sama sekali tak pernah disadari kehadirannya.
Meski cemburu, aku tidak pernah membencinya. Apalagi senang atas peristirahatannya yang untuk selama-lamanya ini. Sama sekali tidak.
“Ra, maafkan aku yang selalu mencemburuimu. Tapi, percayalah padaku bahwa aku tidak pernah membencimu. Aku sama sedihnya seperti orang lain ketika dirimu pergi. Maafkan aku juga karena tidak bisa membuat Rama hidup seperti dulu. Ia berubah, Ra. Ia dingin, bahkan tega menuduhku. Aku mengikhlaskan hati Rama untuk mencintaimu. Tapi, biarkan aku menjaga raganya. Karena itu, kembalikan Rama yang dulu. Hanya kamu yang bisa menasehatinya. Kumohon.” Bulir-bulir bening terus saja berjatuhan membasahi tanah.
“Apa kamu sedang menertawakan nisannya Mira?” suara bas yang sangat kukenal memecah keheningan tempat pemakaman.
Aku hanya bergeming mendengar pertanyaan Rama yang menusuk jantungku itu.
“Kamu menangis? Untuk siapa? Mira? Memangnya sejak kapan kamu dekat dengan Mira, heh? Hapus saja air mata palsumu itu. Aku tahu perasaanmu padaku, maka dari itu aku memanggilmu ‘adik kecil’ agar kamu tak pernah memiliki nyali untuk mencintaiku. karena itu, kamu pasti senang orang yang kucintai pergi, kan?” Ucapnya ketika duduk di sebelah kiri makam Mira dan berseberangan denganku yang berada di sebelah kanan makam, dari sini ia bisa melihat tangisku. Aku mengepalkan tanganku erat hingga buku-buku jariku memutih. Rama benar-benar keterlaluan. Ia menanggap remeh perasaan orang lain.
“Memangnya siapa yang tiga tahun lalu memperkenalkan Mira sebagai kekasihnya kepadaku? Kamu harus tahu, Ram. Aku menyesal mencintai orang yang tidak menghargai perasaanku.” aku menatapnya sinis lalu melangkah pergi.
Setelah beberapa langkah, aku berhenti.
“Aku akan benar-benar pergi kali ini, Rama. Jaga dirimu, jangan sampai sakit. Mira, tolong lindungi ia.” Ucapku dalam hati. Aku tidak bisa berbohong, aku sangat mencintainya meski hanya luka yang terus ia torehkan.
Malam itu sesuai harapannya, Mira menemuinya setelah beberapa minggu tak pernah hadir dalam mimpinya.
“Ram, aku memang pulang lebih dulu. Maaf, jika aku meninggalkanmu. Tapi, aku menunggumu di sini. Aku masih sangat mencintaimu. Kamu tahu, Ram? Aku sangat sedih melihat hidupmu yang begitu hancur sepeninggalku. Aku merasa menjadi kekasih yang tidak baik. Rama, bersyukurlah karena masih diberikan Tuhan kehidupan. Hiduplah dengan baik. Cintailah orang lain yang juga mencintaimu, berbahagialah bersamanya, bentuklah sebuah keluarga. Tak apa, karena aku tahu bahwa aku tetap menjadi orang yang paling kamu cintai. Aku mungkin adalah bunga abadi yang tidak akan pernah terganti. Tapi, ada orang lain yang mencintaimu sebesar aku mencintaimu. Aku percayakan dirimu bersamanya.”
Rama terbangun dari mimpinya, ia termenung memikirkan mimpinya. Semua seperti nyata. “Orang lain? Mencintaiku?” gumamnya pelan. “Fya!”
Pagi-pagi sekali Rama sudah berangkat menuju rumah Fya. Rama tahu, ia begitu kejam pada orang yang telah tulus mencintainya. Ia sangat malu untuk meminta gadis itu menemani sisa hidupnya. Tapi, ia tidak ingin kehilangan lagi orang yang sangat mencintainya.
Setelah mengetuk pintu dengan tidak sabar. Akhirnya pintu rumah dibukakan oleh ibu Fya yang sudah dikenal baik oleh Rama.
“Eh, Rama. Tumben bertamu sepagi ini. ada apa?” Ucap ibunda Fya ramah, mungkin beliau tidak tahu apa yang telah dikatakan laki-laki yang ada di hadapannya ini kepada putrinya.
“Fya ada, Bun?” Ya, karena sudah lama saling mengenal. Rama pun ikut memanggil beliau dengan panggilan Bunda.
“Lho, memangnya Fya tidak bilang ke Rama kalau dia akan melanjutkan pendidikannya ke Amerika? Dia sudah berangkat tadi malam.” Rama kecewa, kecewa pada dirinya sendiri karena terlambat menyadari. Ah, tidak. Terlambat menghargai perasaan Fya padanya.
“Kapan Fya pulang, Bun?” ucapnya lesu
“Wah, Bunda kurang tahu. Dia hanya pamit untuk pergi. Tidak tahu kapan pulang.” Ucap Bunda yang heran dengan perubahan Rama yang datang dengan semangat tiba-tiba berubah seperti kehilangan tenaga.
“Ya, sudah. Aku pulang saja. Tolong hubungi Rama ketika Fya sudah pulang, ya Bun.” Bunda hanya mengangguk lalu tersenyum. Rama berjalan dengan lemas.
“Aku akan menunggumu, Fya. Meski harus selama kamu menungguku.” Gumam Rama.
Patah hati memang menyakitkan, terutama patah hati ditinggal untuk selamanya. Tapi, coba lihat sekelilingmu yang dipenuhi orang-orang yang menyayangimu dan mencintaimu sebesar kamu mencintai orang lain. Meski kamu mencintai orang lain, cobalah untuk menghargai perasaan mereka. Karena mereka sama sepertimu, sama-sama patah hati namun dengan kisah dan orang yang berbeda. Kamu patah hati karena orang lain, mereka patah hati karenamu.

beneran dejavu

Pagi hari yang sangat dingin. Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuk. Rasanya malas sekali unuk bergerak. Untuk menyapa mentari saja lewat jendela kamar rasanya sangat enggan. Aahhh aku hanya ingin menarik selimut tebal ini dan kembali ke alam mimpi.
Drrrttt drrttt. hpku bergetar sepertinya ada sms masuk. Haaahhh, mataku langsung membelalak seketika. Kaget dengan isi sms barusan yang mengatakan bahwa perkuliahan akan dimulai 5 menit lagi. Aku baru teringat hari ini ada jam tambahan mata kuliah psikologi.
Aku bergegas bangun dan hanya gosok gigi serta cuci muka. Waktunya tak cukup jika dipakai untuk mandi. Apalagi dosen psikologi terkenal sangat killer. Kuambil baju yang bisa langsung dipakai yang tak harus disetrika, rambut kukuncir kuda, tas selempang tangan langsung kusampirkan di lengan kiri, buku tebal psikologi kuambil dengan tergesa-gesa di rak buku dan sepatuku, aduuh sepatuku gak ada, di mana ini, waktu udah mepet sepatu ngilang sendiri, hanya ada sepatu sandalku yang model crocs, padahal jika masuk perkuliahan ini tak boleh menggunakan crocs. Aaahh tanpa pikir panjang, daripada aku terlambat, langsung saja kukenakan sepatu itu dan berlari menuju kampus.
Kulirik jam tanganku, waktu tinggal satu menit lagi. Kupercepat langkah kakiku. Tak berapa lama aku sudah sampai ke depan kelas. Tapi aneh kenapa kelas ini rasanya sangat sepi, tak terdengar adanya suara perkuliahan yang sedang berlangsung, karena kupikir aku sudah telat 2 menit. Kucoba ketuk pintu kelas itu tapi nggak ada jawaban. Kubuka pintu itu perlahan-lahan takut kalau-kalau sudah ada dosen psikologi tersebut.
“permisi…”. Ucapku sembari membuka pintu yang berwarna coklat tersebut. Kelas tersebut sangat gelap saat aku masuk ke dalamnya. Aku berpikir kenapa lampunya nggak dinyalain, dan kenapa sepertinya suasana sangat sepi. Tiba-tiba “braaaak” terdengar pintu yang ditutup dengan sangat keras sampai-sampai dindingnya ikut bergetar. Aku menggigil ketakutan. Kuraih hpku yang berada di dalam tas karena bergetar seperti ada sms yang masuk. Kubuka sms tersebut dan
“woiiii bangun woii… udah siang nih. Kamu nggak kuliah? Ini ada jam tambahan pak dirman loh perkuliahan psikologi”. Seru seseorang membangunkan dan menggoyang-nggoyangkan tubuhku. Aahhh kubuka mataku ternyata aku masih berada di kamar kos-kosan. Kuambil hp jadulku dan kulihat sudah jam 8.35. sedangkan perkuliahan akan dimulai pada jam 8.40. aku segera bergegas bangun dan kulihat teman yang tadi membangunkanku sudah rapi berpakain dan hendak berangkat.
“din kamu berangkat sekarang?” ucapku pada dinda, teman satu kamarku.
“ya iyalah rara sayang. Kamu nggak lihat tuh udah jam berapa, Aku berangkat duluan yah. Takut telat. Bye.” Ucapnya sembari meninggalkanku yang masih duduk di kasur. Aku segera tersadar dan menuju kamar mandi, kugosok gigi dan cuci muka, mengambil pakain yang tanpa harus disetrika, serta mengambil tas hingga memakai sepatu crocs. Kejadian ini seperti dalam mimpi. Dejavu. Teriakku dalam hati. Kejadian sampai di kampus persis seperti apa yang sudah kualami dalam mimpi. Dan “braakkk” terdengar suara pintu.
“rara lu ngapain bengong aja di situ. Katanya ada jam tambahan.” Ucap bintang, tetangga kamarku yang kebetulan lewat ke depan kamarku dan melihatku sedang melamun. Aku terbelalak kaget. “loh, bukanya aku udah di kampus yah?”. Tanyaku bingung. “di kampus apaan? Tadi si dinda udah berangkat duluan katanya lu lelet.” Jelasnya.
Aku menggaruk-nggaruk kepalaku yang tak gatal. Kulirik arloji pinkku dan sudah jam 09.30. what??? Aku kaget dan langsung terlonjak bangun dan berjalan mondar-mandir bingung.
“lu kenapa ra?” Tanya bintang dengan penasaran.
“ini bi liat jam Aku”. Jawabku sembari menunjukan arlojiku ke bintang.
“ea, arloji lu kenapa?”. Tanya bintang dengan menatap heran ke arahku. “aaaa… mati aku”. Teriakku histeris sambil memegang kepalaku dengan kedua tangan. “heiii sadar lu ra… lu kenapa tiba-tiba gitu? Lu kesurupan?”
“Aku telat bintang, perkuliahan udah dimulai, mana ini perkuliahan psikologi lagi, aduuuhhh”. Teriakku pada bintang, dan bintang menatapku heran serta menahan tawa dan tawa bintang meledak juga. “hahahhaha… lu kebanyakan ngelamun and ngekhayal nggak jelas, makanya jadi gitu.” Teriak bintang sembari berlalu ke luar kamar meninggalkanku yang lagi bingung dan menangis sedih.
Aku terduduk lemas di kasur, karena jika berangkat kulah sudah nggak memungkinkan, karena telat banyak, dan jika nggak masuk kuliah akan dapat 1 poin yang berdampak pada pengurangan nilai. aaaahhh.
Pesan buat pembaca semuanya, jangan suka mengkhayal yang nggak jelas, nanti jadinya kaya aku ini, nggak masuk kuliah gara-gara kebanyakan ngekhayal. Kita harus selalu memikirkan hal-hal yang nyata aja yaaahhh…

cintra pertama dan terakhirku

Hari ini seperti hari-hari biasa seperti yang kualami. Pergi ke sekolah untuk mencari ilmu dan bertemu dengan teman-teman yang sama. Tapi sejak 2 tahun yang lalu hidupku berubah menjadi indah, karena ada dia. Dia adalah Dewa teman sekelasku yang menjadi kekasihku. Sebenarnya aku ragu untuk menerima cintanya tapi karena ketulusannya akhirnya aku menerimanya menjadi kekasihku.
Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan agak murung, tetapi ketika aku mengingat bahwa hari ini adalah hari jadiku dengan Dewa yang ke 2 aku menjadi gembira dan aku tersenyum kepada diriku sendiri ketika mengingat pertama kali Dewa menyatakan cintanya kepadaku. Dulu kami masih cupu karena kami masih kelas 1 SMA sekarang kami sudah kelas 3 SMA. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kubuka laci tempat di mana aku meletakkan surat pernyataan cinta Dewa kepadaku, lalu kubaca ulang surat itu.
Untuk: Alana Febiola
Dari: Dewa Lenggana
Setahun yang lalu aku hidup dalam kedamaian dan ketenangan… Namun ketenangan itu sekarang telah berubah jadi kebisingan dan kedamaianku jadi persaingan.
Gemetar!!! Gemetar tanganku ketika mula-mula menulis surat ini. Hatiku memaksaku menulis, banyak yang terasa, tetapi setelah kutuliskan penaku ke dawat, hilang akalku tak tentu arah dari mana harus kumulai?
Saya menanggung perasaan ini seorang diri, tiada tempat mengadu. Mengapa hal ini saya adukan kepadamu Alana? Itu pun saya tidak tahu, cuma hati saya berkata, bahwa engkaualah tempat saya mengadu…
Di dalam khayalku dan dalam gelapnya malam, tersimbahlah awan, cerahlah langit dan kelihatanlah satu bintang. Bintang itu adalah kau Alana. Maukah kau menjadi kekasihku untuk menjadi semangat dalam hidupku? Agar aku semangat bersekolah? Jika kau tidak mau menjadi kekasihku jadilah teman yang selalu menemaniku.
Setelah membaca surat itu aku segera berangkat ke sekolah dan segera menemui Dewa untuk sekedar mengingatkan hari jadi kita yang ke 2. Tapi ketika aku sampai di kelas dia mengajakku utuk ke taman sekolah dan berbicara kepadaku bahwa hubungan ini tidak dapat dilanjutkan lagi karena dia akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya serta ikut ayahnya karena ayahnya dipindahkan tugasnya. Aku hanya terdiam di tempatku berdiri. Aku terlanjur menyayanginya, mengapa dia harus pergi meninggalkanku? aku menangis dan berusaha menahannya tapi butir-butir air mata ini tidak dapat dibendung lagi. Dia berkata kepadaku “Na, jangan menangis akan kuusahakan aku akan kembali ke sini untukmu”. Janji itu yang kupegang sampai sekarang.
10 tahun kemudian, sekarang usiaku 28 tahun, dan aku masih mengingat janji itu. Aku memegang janji itu tapi dia tidak kunjung datang untukku. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan apakah dia lupa denganku apakah ada suatu hal terjadi padanya? aku selalu berdo’a setiap hari agar dia datang kepadaku. Tapi sampai sekarang dia tak kunjung datang juga.
Suatu hari orangtuaku merasa kasihan kepadaku karena usia sudah semakin bertambah, dan mereka berencana menjodohkanku dengan orang pilihan mereka. Aku tidak mau dan menolak perjodohan itu. Lalu aku pergi meninggalkan rumah dan hidup sebatang kara.
Setiap hari aku menununggu di tempat yang sama ketika dia pergi. Aku tidak bosan menunggunya. Ditemani dengan matahari yang kemudian berganti dengan bintang-bintang yang seakan mengajakku untuk bersama mereka agar aku tidak sendirian lagi. Kini usiaku tidak muda lagi, penantianku yang begitu lama tidak membuahkan hasil. Kini aku sudah lelah menunggunya dan tidak ada harapan lagi untuk bersama, dan ketika tubuhku tak mampu lagi digerakkan, nafasku tak lagi berhembus, dan jantungku berhenti berdetak aku tetap sendiri menanti kehadirannya yang tak kunjung datang. Inilah akhir penantianku…
Amanat: orang yang kita sayang mungkin tidak selamanya yang terbaik untuk kita, kita harus bisa memilih mana orang yang baik untuk kita dan mana yang bukan. Mungkin pilihan orang lain adalah orang terbaik untuk kita. Jangan remehkan orang lain.

roda kehidupan

Dunia mereka kelabu sebelum datangnya seorang malaikat tak bersayap. Tapi roda kehidupan terus berputar. Kini dunia malaikat itu kelabu sebelum segerombolan semut membuka mata hati dan pikirannya.
Mentari tersenyum gembira, awan tak bosan menaungi gadis cantik berkulit cerah itu. Pepohonan saling menyapa dan hembusan angin berlomba-lomba menggoyangkan rambut lurusnya. Cuaca pagi itu membuat Lotusia Amor begitu bersemangat memulai harinya. “Mam, Lotus berangkat” pamitnya sebelum ia pergi ke rumah keduanya dengan B-Blue, sepeda kesayangannya. Ia terus melantunkan nada-nada yang indah selama perjalanannya. Ia selalu menikmati setiap detik hari-harinya. Tak ada keluhan di kamus kehidupannya.
“Sore ibu, Bagaimana kabar dagangannya?” Senyumnya merekah ketika ia sampai di kantin sepulang sekolah.
“Hari ini semua daganganmu habis terjual. Ini hasilnya” Kata ibu kantin sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas.
“Uangnya tolong dibungkuskan 10 nasi saja Bu”
“Kamu masih sering menemui anak-anak jalanan itu?”
Lotus hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Tak salah memang orangtuamu memberimu nama Lotusia Amor. Kau gadis yang sangat cantik dan penuh cinta”
“Selamat Sore” sapa gadis itu sesampainya di rumah kardus. Ya, rumah kardus, rumah yang dibangun dengan kardus. Rumah itu jauh dari kata layak tapi mereka dengan telatennya membersihkan dan merawat tempat itu. Sehingga tempat itu selalu terlihat bersih dan rapi.
Anak-anak yang sudah berkumpul disana langsung berhamburan ke arah Lotus. “Lihat! Kakak bawa sesuatu untuk kalian” gadis berambut lurus itu membagi-bagikan nasi bungkus yang telah ia beli. Senyum manis tersungging di bibirnya ketika anak-anak itu makan dengan lahap.
“Kak” panggil seorang anak laki-laki yang berkulit hitam dan berambut keriting. “Kenapa kakak diam saja? Kenapa kakak tidak makan? Ayo kita makan bersama”
“Kakak senang sekali bisa disini lagi dan bisa berbagi dengan kalian. Makanan itu kakak belikan untuk kamu, habiskan saja, kakak bisa makan nanti di rumah” jawab gadis itu dengan lembutnya. “Oh ya, bagaimana dengan buku yang kakak beri kemarin? Apa kamu suka?”
“Suka sekali Kak! Ceritanya bagus” jawabnya dengan mata berbinar-binar. “Kakak tau nggak? Sekarang Bintang sudah lancar membacanya”
“Oh ya? Pintar sekali adik kakak yang satu ini” Pujinya sambil mengelus rambut anak itu.
Sebelum pulang gadis berparas cantik itu menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Hal yang sangat jarang sekali dilakukannya. Dia memang tidak suka berfoto tapi entah mengapa ia ingin sekali melakukan hal itu saat ini.
“Lotus, bangun nak!” Ibunya mencoba membangunkan gadis bernama Lotus itu. “Kita harus berangkat sebelum larut malam”
Masih dengan mata terpejam dan guling dipelukannya ia menjawab dengan malasnya, “Iya mam, sebentar lagi, Lotus masih mengantuk”
“Ayolah, ini sudah jam berapa? Kalau kita berangkat terlalu larut kita bisa terlambat datang ke pernikanan Lilib besok pagi”
Lotus mengucek-ucek matanya. Ia menyerah. “Iya iya Mam, aku sudah bangun ini, Aku akan turun 30 menit lagi. Mama tunggu saja aku di ruang keluarga, aku perlu bersiap-siap”
Entah mengapa Lotus merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Sebelum berangkat kalimat “Jangan pergi, tetaplah disini” terus terdengar olehnya. Meski ia sudah mencoba memakai headset yang mengalunkan nada-nada indah, kalimat itu terus saja menghantuinya. Perasaan itu sungguh mengganggu dan membuatnya tidak nyaman saat dalam perjalanan. Ia sudah kehabisan akal. Akhirnya pemilik rambut lurus itu memilih memejamkan matanya dan mencoba memasuki alam bawah sadarnya meski berbagai rasa berkecamuk di hatinya dan membuat pikirannya menjadi liar.
Kalimat itu terdengar semakin keras ketika mereka memasuki jalan tol. “Tuhan, pertanda apakah ini?” tanyanya dalam hati. Ia terus memejamkan matanya dan memakai headset. Ia mencoba menenangkan dirinya. Hanya sekelebat cahaya berlalu lalang di kegelapan yang dia rasakan. Sampai ketika ada cahaya terang yang menuju arah yang berlawanan dengan arah laju mobilnya. Cahaya itu berbeda dengan cahaya yang ia temui sebelumnya. Semakin lama cahaya itu semakin membesar dan terang sehingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berpikir itu hanyalah halusinasinya saja. Gadis itu tetap memejamkan matanya dan mencoba membuang pikiran buruk itu. Tapi cahaya itu semakin lama semakin jelas dan disertai suara klakson yang memekakkan telinga. Ia semakin takut ketika ada sesuatu yang menghantam mobilnya hingga membuatnya merasakan goncangan yang begitu dahsyat. “Mah, Pah, Kak?” panggilnya lirih sebelum pandangannya kemudian kabur.
Jari-jari tangan Lotus mulai bergerak ketika jam dinding berdentang tepat pukul tiga sore. Ia mengedip-edipkan matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu kemudian ia melihat sekelilingnya. Di sebelahnya tertidur seorang anak kecil berambut keriting. Muncul rasa penasaran dibenak gadis itu. “Siapa anak itu dan mengapa dia ada disini?”. Lotus menyentuh lembut tangan anak itu dan menggenggamnya. “Tangan mungilnya kasar. Apakah ia bekerja terlalu keras?” pikir gadis itu. Ia terkejut ketika anak itu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahnya. Matanya yang sayup menatap gadis itu dengan lembut. Anak itu terdiam sejenak kemudian senyum manis terukir di wajah imutnya. “Kak Lotus. Kak Lotus sudah bangun?” senyum anak itu semakin melebar. “Tunggu sebentar Kak, tunggu” kata anak itu lalu keluar. Tak lama kemudian ia masuk dengan menggandeng seorang laki-laki beserta seorang perawat. Wajah laki-laki itu begitu sederhana dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kenapa kalian ada disini?” tanya Lotus lirih.
“Aku melihat kakak di koran. Lalu aku bersama abang Doni mencari kakak disini dan ternyata itu benar” jawab anak itu dengan semangatnya.
“Lalu, dimana orangtuaku? dimana kak Aldi? kenapa mereka tidak disini?” Lotus menengok-nengok sekitarnya, berharap orang yang dimaksudkannya itu ada di ruangan putih dengan bau alkohol dan obat-obatan yang ia tempati sekarang.
Anak kecil bernama Bintang dan abangnya saling bertatap muka dalam sunyi. Mereka tidak tau bagaimana cara menyampaikan kabar keluarga gadis itu.
“Kenapa kalian diam? Katakan, dimana mereka?” Pinta Lotus.
“Me… mereka sudah.. sudah…” Kata Doni terbata-bata.
“Mereka sudah apa? katakan cepat!” Gadis itu membentak mereka meski suaranya lemah.
“Mereka sudah meninggal Kak” Bintang menundukkan kepalanya. Ia tak ingin melihat malaikatnya ini menangis.
Lotus hanya terdiam dengan tatapan kosong ke arah langit-langit ruangan itu. Perlahan-lahan cairan bening mengalir di pipi mulusnya. Ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia sudah tidak mempunyai keluarga lagi. “Tuhan, kenapa harus aku? kenapa harus Lotus, Tuhan?” isaknya dalam hati.
Baru kali ini Bintang dan Doni melihat malaikat tak bersayap mereka menangis. Setau mereka Lotus adalah gadis cantik, penuh kasih yang selalu ceria. Mereka tak menyangka gadis sebaik itu bisa mendapatkan cobaan seberat ini.
“Tolong pasien ini jangan dibiarkan terlalu larut dalam kesedihan, karena hal itu dapat memperburuk kesehatannya” Kata seorang perawat kepada Doni sebelum meninggalkan kamar pasien milik Lotusia Amor.
Minggu demi minggu telah berganti, dan Lotus masih saja menikmati kepedihan hatinya. Ia selalu saja menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tubuhnya samakin kurus karena hanya ia masuki sedikit nutrisi. Hal itu terus ia lakukan hingga tiba hari istimewanya.
Tepat sebelum matahari kembali ke peraduannya beberapa anak jalanan masuk ke kamar gadis berwajah bidadari itu. Mereka terus mengalunkan lagu selamat ulang tahun yang dipopulerkan oleh Jamrud meski Lotus tak memalingkan wajah sedikitpun. Mereka terus melantunkan nada-nada yang indah di hari istimewa itu. Ya, karena hanya ini yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membelikan sebuah barang untuk saudara kesayangannya itu.
Anak-anak itu mendekat pada Lotus dan memeluknya lembut sembari mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka tenggelam dalam kehangatan kasih yang murni dari hati.
“Kak, kakak jangan bersedih lagi. Kakak masih punya kami. Kami sudah menganggap kakak sebagai saudara kami. Sebagai keluarga kami. Kakak tolong jangan seperti ini terus. Kami jadi sedih kalau kakak terus seperti ini. Kami semua sayang kakak” Kalimat itu langsung saja meluncur dengan mulusnya dari seorang anak kecil yang begitu lugu. Kalimat luapan isi hatinya yang paling dalam.
“Mungkin anak itu benar. Aku tidak boleh terus seperti ini” Lotus memotivasi dirinya sendiri. Ia melihat sekelilingnya, banyak sekali yang sayang padanya dan selalu memberikan senyuman terbaiknya. “Bodohnya aku. Kenapa selama ini aku tak sadar? aku masih mempunyai keluarga” senyum kecil terlukis di tengah deras air matanya.
Satu tahun sudah mereka hidup bersama. Lotus tak lagi merasa sepi karena masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Mereka membangun sebuah usaha kecil di rumah Lotus dengan harapan mereka bisa memetik buah dari apa yang sudah ia tanam di kemudian hari.
Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan. Bangkitlah dan jemputlah bintang masa depanmu. Kita tidaklah sendirian di dunia ini. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kita. Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mengurusi kepedihan hati.